Raut muka Ringga tampak kesal setiap kali pulang dari sekolah. Air mukannya yang dulu kerap ceria, kini berganti dengan cemberut. Ringga seakan tidak punya semangat dengan hari-harinya, baik ketika akan pergi ataupun sepulangnya dari rutinitasnya belajar di sekolah.
“Ringga, bunda perhatikan belakangan ini kamu tampak resah dan kurang semangat ke sekolah. Kamu sakit?” tanya bunda khawatir.
“Ringga kesal sekali bunda. Teman-teman di sekolah selalu mengatai Ringga dengan ‘si rambut mie’. Ringga menjadi iba hati dan kesal mendengarnya,” jawab Ringga dengan kening yang berkerut.
“Oh..itu, bunda tahu masalahnya. Mereka berkata demikian pasti karena kamu punya rambut keriting kan?”
“Betul bunda. Mentang-mentang Ringga punya rambut yang agak berbeda, lantas mereka semaunya saja bilang ‘rambut mie’ kepada Ringga,” kata Ringga sambil menunjuk-nujuk rambutnya. Seakan tidak puas dengan kekesalannya, Ringga kembali menambahkan, “Ringga tidak suka dengan rambut seperti ini bunda. Ringga malu punya rambut keriting. Ringga ingin berambut seperti teman-teman yang lain. Mereka punya rambut lurus mengilap yang diminyaki setiap hari. Ringga iri bunda.”
Mendengar dan merasakan keluhan yang dihadapi Ringga, bunda berusaha menenangkan. Bunda meyakinkan dan merangkul Ringga dengan erat. “Lihat bunda dan dengarkan kata bunda,” ucap bunda tersenyum kepada Ringga. “Tidak ada yang salah dengan rambut kamu yang keriting. Kamu tetap tampan dan pintar lagi. Sakarang bunda bertanya, berapa umur kamu sekarang?” seraya mencubit halus pipi Ringga.
“Delapan tahun bunda,” jawab Ringga datar.
“Kamu masih terlalu belia sayang. Waktu kamu masih panjang ke depan. Ada lima, sepuluh, atau lima puluh tahun mendatang yang bakal kamu lalui. Kamu pasti tidak mau menjalani waktu demi waktu tersebut dengan bersedih menyesali diri bukan? Hanya lantaran menyikapi sesuatu yang kamu anggap kekurangan. Padahal itu bukanlah kekurangan, melainkan sebuah karunia yang patut kamu syukuri. Sekarang bunda bertanya lagi, yang menciptakan manusia itu siapa?”
“Allah,” jawab Ringga
“Allah menciptakan setiap manusia dengan segala rupa dan karkater, termasuk bentuk rambut yang kamu miliki sekarang. Setiap bentuk ciptaan Allah itu pasti ada tujuannya. Tugas kita sebagai manusia harus mensyukuri karunia yang telah diberikan-Nya tersebut,” jelas bunda.
“Tapi bunda, teman-teman Ringga di sekolah terus menertawai rambut Ringga. Ringga tidak tahan bila setiap hari diperlakukan seperti itu,” ungkap Ringga mempertanyakan.
“Hal itu terjadi karena teman-teman kamu belum memahami. Kita tidak boleh menertawai ciptaan Allah. Kamu harus tenang menyikapinya. Bila perlu kamu sampaikan ke mereka mengenai apa yang bunda bilang tadi kepada kamu.”
Kemudian bunda memotivasi, “Banyak kok orang yang rambutnya keriting itu hebat. Ada Giring Nidji seorang musisi terkenal, penulis best seller Andrea Hirata, Nicholas Saputra selaku aktor film, Riri Riza sutradara kenamaan, dan tentu saja ayah kamu. Ayah saja sangat bangga dengan rambut keritingnya. Ayah selalu disenangi teman-temannya karena bersikap bijaksana. Tidak kalah pentingnya, ayah punya prestasi sehingga menjadi kebanggan teman-temannya di kantor. Bila suatu ketika teman-temannya menertawai, ayah hanya menanggapi dengan santai dan tidak gusar. Ayah mengangap itu sebagai doa dan pelucut untuk berbuat selalu yang lebih baik. Rambut keriting justru menjadi keunikan tersendiri yang melekat bersamaan dengan kelebihan kita. Kamu harus bisa mencontoh ayah dan nama-nama lain yang bunda sebutkan tadi. Ringga harus memberikan pembuktian diri dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dengan kata lain, fokuslah pada prestasi yang akan kamu torehkan nantinya.”
Penjelasan bunda yang panjang lebar tersebut membuat Ringga perlahan-lahan mulai menyadari. Ringga semakin mengerti dan tumbuh semangatnya untuk menonjolkan segala kemapuannya. Apalagi Ringga termasuk siswa yang pintar dan selalu mendapat peringkat tiga besar. Ringga tidak ingin ejekan teman-temannya menjadi penghambat prestasinya. Ringga hanya akan berkonsentrasi penuh dengan segala sesuatu yang membuatnya akan lebih baik dan tentu saja membanggakan orangtuanya.
Namun, ketika ke sekolah sebagaimana biasanya, teman-teman Ringga masih saja memanggilnya “si rambut mie”. Ringga sudah berupaya menangkis olok-olokan tersebut dengan menjelaskan apa yang telah dikatakan bundanya. Bahkan Ibu guru sudah menegur teman-temannya yang bandel tersebut. Akan tetapi, temannya tetap saja mengejeknya di luar kelas. Ringga pun kembali merasa kecewa dan motivasinya perlahan turun kembali. Ringga sempat berpikir untuk pindah sekolah saja.
***
Setelah rapor akhir semester ganjil di SD Harapan Karya diberikan kepada setiap wali murid, masa liburan pun tiba. Namun, dalam rapor tercatat bahwa prestasi Ringga turun ke peringkat tujuh. Ringga kecewa dan merasa bersalah kepada bunda karena hasil rapornya tersebut. Bunda sebenarnya memahami bahwa Ringga cukup terganggu fokus belajarnya lantaran persoalan yang dialaminya di sekolah belakangan ini. Bunda pun sadar bahwa Ringga masih terlalu belia dan tidak cukup kuat mentalnya mengahadapi suatu masalah. Akan tetapi, Bunda tetap mendukung Ringga dan peringkat tujuh pun patut untuk dirayakan.
Keesokan harinya bunda mengajak Ringga ke mal. Ayah Ringga tidak bisa ikut karena ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, ayah sudah berjanji akan memberikan hadiah istimewa untuk Ringga sepulangnya dari luar kota.
Setelah lelah berjalan-jalan dan menikmati berbagai permainan yang tersedia di mal, bunda dan Ringga pun makan di salah satu gerai makanan siap saji kesukaan Ringga. Ringga sangat senang hari itu. Untuk sementara ia bisa melupakan masalah yang dialaminya di sekolah, termasuk merosotnya peringkat belajar. Bunda pun merasa bahagia dengan liburannya ke mal bersama Ringga anak kesayangannya.
Kemudian ketika tengah asyik makan dan mengobrol, Ringga dan bunda dihampiri seorang pria separuh baya. “Saya perhatikan dari tadi, Ringga sepertinya cocok memerankan salah seorang tokoh dalam sinetron saya,” kata Pak Punjab setelah memperkenalkan diri dan beribincang-bincang dengan bunda dan Ringga seraya menyerahkan kartu namanya.
“Saya ingin Ringga dapat bermain dalam sineton saya sebanyak lima episode saja. Kami butuh aktor belia. Ringga mempunyai ciri fisik yang kami mau, yakni berambut keriting dan berkulit sawo matang,” ujar Pak Punjab sambil mengelus rambut Ringga.
Mendengar apa yang dikatakan Pak Punjab, bunda dan Ringga seakan tidak percaya dan tebersit juga rasa gembira. Bunda dan Ringga tidak menyangka bila orang yang berbicara di depan mereka adalah produser sinetron yang menawarkan Ringga berperan dalam sinetron kejar tayangnya.
“Kami pikirkan dulu Pak Punjab. Kami diskusikan dengan ayahnya terlebih dahulu. Apakah akan menerima atau tidaknya tawaran ini akan kami kabari kepada Pak Punjab,” kata bunda menanggapi.
“Tidak apa-apa Ibu. Saya harap ibu dan Ringga menerima tawaran ini. Siapa tahu anak ibu, Ringga berbakat dalam dunia akting. Lagi pula sekarang masa liburan jadi tidak akan menggangu jadwal sekolahnya,” bujuk sang produser meyakinkan.
***
Ringga mendadak terkenal setelah bunda, ayah, dan Ringga menerima tawaran Pak Punjab. Semua orang di lingkungan sekitar rumah tempat tinggal Ringga tidak henti-henti memujinya. Akting Ringga dalam sinetron yang tayang secara berturut-turut selama lima episode itu menerbitkan kekaguman para penontonnya. Pihak sekolah sangat bangga karena salah seorang siswanya tampil berakting di layar kaca. Teman-teman Ringga yang dulunya sering mengatai dengan rambut keriting, kini berbalik menyanjungnya dengan mangatakan rambut Ringga keren dan sangat cocok berperan dalam sinetron tersebut.
Ringga pun merasa bahagia dari apa yang dialaminya sekarang. Hidupnya kini berubah dan senyumnya terus mengembang dari bibir mungilnya.
“Bagaimana Ringga, masih punya penyesalan dengan bentuk rambutmu?” tanya ibu sambil mengerlingkan mata. Ringga tidak dapat menjawab dan hanya bisa tersipu malu memeluk bunda yang dicintainya.
*Cerita ini dikirimkan ke redaksi Kompas Anak, tetapi disayangkan naskah dikembalikan lagi oleh redaktur dengan alasan “Bahasa terlalu baku/kaku”.