Adakalanya ujian sekolah dengan bentuk soal sejenis pilihan ganda (objektif) berdampak kurang baik untuk
mengukur kemampuan siswa. Mereka terlalu mudah melakukan tindakan sebagaimana meminta subsidi jawaban dari temannya. Setiap peserta didik dapat dengan gampang memberitahu atau diberitahu mengenai jawaban apa yang dimiliki rekannya. Mengapa pilihan ganda dirasa kurang baik karena pilihan jawabannya hanya berkaitan dengan simbol a,b,c,d, dan e yang teramat mudah untuk dikomunikasikan secara verbal ataupun nonverbalnya oleh siswa.
Barangkali bentuk soal pilihan ganda tidak begitu masalah dengan sekolah yang siswanya memiliki kemampuan di atas rata-rata. Soalnya bisa dipastikan bahwa setiap peserta didik yang mempunyai tingkat kepintaran yang tinggi akan berkorelasi dengan kamandirian melaksanakan ujiannya. Namun, akan jauh berbeda apabila sekolah dengan siswa yang mempunyai kemampuan standar ataupun di bawahnya untuk dilalkukannya ujian dengan format pilihan ganda tersebut. Dengan kata lain, hampir bisa dipastikan akan terjadi pemanfaatan jawaban-jawaban teman dengan frekuensi yang tinggi.
Guna mengatasinya, perlu dilakukan strategi bentuk soal dengan jawaban-jawaban yang membutuhkan uraian atau jenis esai saja. Tidak perlu terlalu banyak, cukup denga jumlah maksimal 10 butir soal, yang penting setiap pertanyaan ujian sudah mengandung kompetesi dasar atau materi yang telah diberikan pada proses belajar mengajar. Dengan demikian, siswa akan belajar untuk menganalisis maksud atau pemahaman tentang soal guna menjawabnya dengan pendapat dan penjelasannya masing-masing secara relevan. Mudah-mudahan dengan itu siswa bisa mengasah ketajaman berpikirnya dan menjadi sumber daya menusia yang berkarakter sebagaimana yang tengah digalakkan pemerintah saat ini.