Salah seorang teman saya sudah begitu frustrasi menjalani hari-harinya. Uang benar-benar telah menyandera kehidupannya. Usaha yang tak kunjung berpendar menjadi alasan krusial yang kian menikam batinnya. Ditambah lagi kehidupan asmara yang sejalan dengan usahanya yang payah.
Sangat miris mendengar kabarnya itu sekarang. Namun, apa daya tangan tidak terlalu sampai membantunya secara langsung. Barangkali uluran tangan saya yang hanya bisa dengan menghibur dan memberikan sumbangsih saran bisa menjadi penenang kalut jiwanya.
Begitulah potret sebagian besar anak negeri yang tengah dirundung masalah. Kesempatan kerja yang tak kunjung digubris, kemudian wirausaha yang tidak menjadi-jadi, ditambah utang dimana-mana yang mulai menumpuk seperti cucian kotor. Tentu, siapa saja yang mengalami (termasuk saya) akan bersikap sama dengan teman saya itu. Dan siapa tahu, tingkat frustrasinya bisa lebih gawat dibandingkan dia. Akan tetapi, saya hanya bisa berdoa semoga ia bisa melaluinya dengan sabar.
Problem ini juga tengah dihadapi adik saya. Julukan fresh graduated yang telah diterimanya ini menjadi asa untuk segera mendapatkan jawaban guna dipanggil kerja. Saya hanya bisa berharap ia juga bisa tabah untuk terus berusaha. Saya yakin, di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan yang mengahampiri. Jadi, ketika ditimpa suatu perosalan, semoga kita bisa melihat langsung kemudahan-kemudahan itu.