Seperti biasa, kelulusan UN disambut siswa dengan euforia corat-coret pakaian. Untuk saat ini, barangkali, cara konvensional itulah yang paling memuaskan kebahagiaanya. Menyepidol dan menyemprot pakaian bahkan anggota tubuh sudah menjadi ritual wajib yang mustahil bisa dihilangkan.
Sangat disayangkan memang karena pada umumnya seragam-seragam itu masih dalam kondisi laik pakai. Bila masih laik digunakan, tentu pakaian-pakaian itu akan amat berguna bila diberikan kepada teman-temannya yang masih membutuhkan.
Jika kita memang berniat untuk menghilangan atau setidaknya mengurangi budaya itu, pihak sekolah bisa mengantisipasinya. Caranya dapat dicegah saat pertama, yakni ketika mereka berada pada tingkat pertama sekolah. Dalam artian, sekolah harus mewanti-wanti sedari awal agar nanti siswa yang akan menjejaki UN harus menyumbangkan seragamnya tersebut. Terserah bagaimana pengelolaannya. Dengan demikian, terlepas apakah setelah itu mereka masih melancarkan aksi corat-coretnya, tentu tidak ada masalah. Setidaknya, sekolah sudah menanamkan kepedulian sosial pada siswa. Dengan kata lain, ada selingan nilai positif yang dapat diambil dari hiruk pikuknya pesta kelulusan tersebut. Kapan masalah corat-coret seragam ini akan berakhir? Ya tanyakan pada rumput yang masih setia bergoyang-goyang.
