Akhir Penantian*

Posted: Maret 29, 2011 in Uncategorized
Tag:,

O l e h Hafizul Ahda

“Woi….cepatlah! Lari! Dasar, sudah telat masih menggak-menggok!” teriak-teriak mereka semakin melecut ketergesaanku. Aku terlambat beberapa menit tidak masuk barisan. “Celaka! pasti dikerjain lagi,” firasatku berkata. Aku pun terdiam dengan kesalahanku ketika telah mematung di hadapan mereka yang menghardikku tadi. Namun, selang beberapa saat sesudahnya, ternyata ada lagi yang kesiangan datang. Cewek pula.
***
Aku mengenalnya ketika awal memasuki bangku kuliah. Tepatnya sejak mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKMB) atau yang dulu dikenal dengan Ospek. Pandanganku terus saja tidak bisa lepas darinya. Hatiku pun timbul getar yang tidak biasa. Aku yakin inilah getar asmara. Sebuah getar yang ditimbulkan dari bentuk fisik Adel yang menurut polusku begitu sempurna. Adel berperawakan manis dan berkulit putih bersih. Setiap orang yang melihat pasti lama akan memalingkan pandangannya dari Adel.
Adel satu kuliah denganku. Kami tergabung dalam Program Studi Akuntansi UNP. Karena sering kuliah bareng, hubungan kami pun tergolong mesra sebagai teman. Namun, belakangan kedekatanku dengan Adel tidak enak bila hanya disebut teman. Aku ingin lebih dari itu.
Aku pun berusaha mendekati Adel lebih intensif. Aku akrabkan ia untuk kucuri hatinya dan tidak akan aku kembalikan. Aku ingin membawa hatinya terbang jauh ke angkasanya angkasa hingga akhirnya ia menyerah dan mau denganku. Oh begitu berharapnya aku kepadanya.
Bagaimanapun satu-satunya agar bisa selalu dekat dengan Adel, aku sering mengajaknya jalan. Memang aku dan Adel sudah sering pergi berbarengan. Baik itu ketika kuliah ataupun tengah bersantai melepas penat dari rutinitas akademik. Namun, kesempatan kali ini berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya. Pada momen kali ini aku ingin ungkapkan isi perasaanku kepadanya. Aku berpikir cara memandangnya terhadapku semakin meyakinkan aku untuk mengungkapkan rasa sukaku. Tidak ada lagi waktu untuk menundanya. Aku khawatir akan ada orang yang akan merebutnya dariku. Walaupun aku harus sadar segala kemungkinan akan terjadi. Tentu saja pernyataan cinta ini akan menimbulkan dua kemungkinan apakah akan ditolak atau diterima. Aku berharap pilihan kedua akan terjadi.
“Adel, sudah lama aku ingin mengatakan sesuatu kapadamu. Apa yang aku katakan ini adalah sebuah ungkapan yang barangkali paling berharga selama hidupku,” kataku serius dengan intonasi sedikit gugup.
“Mau ungkapin apa Her. Sebegitu seriuskah sampai-sampai raut muka kamu terlihat mau pingsan,” timpal Adel bercanda dengan air muka yang heran-heranan.
“Aku suka kamu Adel. Berkenankah dirimu menjadi permaisuriku,” kataku sambil menggengam tangan halusnya. Adel tersipu malu melihat tingkahku dan mendengar kalimat tawaranku.
“Ah Hero kamu apa-apaan sih, kamu bergurau saja. Biasa aja lah jangan seperti itu.”
“Aku serius Del. Aku suka kamu sejak pertama menatapmu. Aku sudah terlanjur sayang ketika senyummu menyapa ragaku,” rayuku meyakinkan sepenuhnya.
“Kamu benar-benar serius Hero?” Adel diam sejenak lalu meneruskan, “Ah tapi Maafkan aku Her. Bukan bermaksud untuk tidak menyukai kamu. Tawaran kamu dengan sangat berat hati tidak bisa aku terima. Aku masih nyaman dengan hubungan kita sekarang. Ya jalinan sebagai teman biasa,” jawab Adel mantap. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku. Hatiku berkeping mendengarnya dan jiwaku meratap karenanya.
Kemudian Aku dan Adel pulang. Kami menyusuri kotak-kotak jalan trotoar, tapi berjalan dengan suasana hati yang berbeda dari sebelumnya. Terutama sekali untukku sebab perasaanku baru saja terserang lindu.
Hari-hari berikutnya aku agak merasa lain saja dengan Adel. Kadar interaksiku dengannya tidak lagi sebagaimana biasa. Aku seperti kehilangan semangat hidup. Akan tetapi, Adel yang dasar karakternya periang tetap saja membiasakan diri bergaul denganku. Seolah-olah hubungan kami tidak terjadi apa-apa. Beda denganku yang merasa terpukul bahkan hampir terserang trauma mendengar suaranya.
“Hei Pahlawanku. Kok sendiri aja bengongnya. Boleh ikutan ga?” ungkap Adel Menggoda. Ia sering menyapaku dengan sebutan pahlawan bila melihatku termangu.
“Hmm gak apa-apa Del. Biarlah aku yang berdiam diri seorang. Kalau kamu ikut, dunia tidak lagi bisa berseri,” balasku mencoba menghibur diri dengan suara yang datar.
“Ah kamu selalu begitu Her. Mengucapkan kata-kata yang terus puitis-puitisan. Kamu memang benar-benar sahabatku yang sepesial,” kata Adel bercanda dengan logat batak sembari mencubit pipiku. Aku pun meringis karena ia menjiwit tepat di pipiku yang berjerawat. Spontan Adel langsung berlari ketika hendak aku balas karena wajahku kesakitan olehnya. Walaupun jari-jarinya lembut, tapi bila sudah terkena jerawat tetap saja perih buatku.
Semakin hari kian hatiku tak tertahankan lagi oleh sikapnya itu. Ia terus saja menggodaku dengan manja yang membikinku semakin merana oleh virus cinta. Cinta kepada seseorang yang menganggapku hanya sebagai sahabat. Kepada siapakah itu? Ya jelas saja siapa lagi kalau bukan si Adel yang imut kayak marmut itu.
Aku juga heran sebenarnya siapa yang disukainya. Setiap kali aku tanya ia selalu mengelak. Terus saja mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Sangat disayangkan sebenarnya cewek secantik Adel tidak punya kekasih yang mendampingi. Bahkan aku yang lumayan cute ini telah bersedia menawarkan diri untuk menjadi pangerannya, tetapi tetap saja ia tidak mau. Aku membesarkan hati, biarlah semua dijalani saja apa adanya dulu. Semoga suatu saat ia mau menerima cintaku. Tentu saja dilain waktu.
***
Ujian semester kian dekat, kira-kira dua minggu lagi. Siap tidak siap atau mau tidak mau aku harus mempersiapkan kemampuan. Aku mesti menyambut ujian tersebut dengan semangat yang tinggi. Kalau sudah mendekati ujian biasanya aku bersama teman-teman dekatku mengadakan belajar kelompok. Mereka yang menjadi partnerku seperti, Sinta, Sophi, Toni, dan termasuk si Adel Kudel (begitu aku sering menyapanya) telah siap berdiskusi. Kali ini tempat ritual belajarnya di rumahku.
Hari itu kami membahas soal-soal dalam mata kuliah Advance atau Akuntansi Keuangan Lanjutan. Kebetulan dosen mata kuliah ini yang sering memberikan kami tugas per kelompok. Jadi besar kemungkinan soal yang akan muncul saat ujian tentu saja berkaitan dengan apa yang kami bahas dalam pertemuan ini. Kami semua sibuk dalam belajar kelompok itu. Aku dan teman-teman sadar jika tidak serius, berarti terima saja nilai yang akan mengecewakan. Mata kuliah ini termasuk pelajaran yang membutuhkan pemahaman dan analisis yang tepat. Latihan-latihan mengerjakan soal secara berkala dan intensif menjadi hal yang wajib. Tujuannya tidak lain untuk mengasah kemampuan menyelesaikannya dengan benar.
Dalam belajar bersama tersebut aku masih menyempatkan diri sesekali mencuri pandang melihat keseriusan belajar Adel. Aku melihatnya sesekali dalam lima menit untuk menjaga semangat belajarku. Merefreshkan dirilah istilahnya.
Tanpa terasa kami belajar menghabiskan waktu hingga pukul sembilan malam. Saatnya membubarkan diri. Teman-temanku ini lumayan jauh juga rumahnya dengan tempat tinggalku. Secara kebetulan abangku, Heksa, baru ingin keluar memulai rutinitasnya. Langsung saja abangku menawarkan diri untuk sekalian mengantarkan mereka pulang. Mereka pun menumpang mobil Vitara abangku. Lepas pandanganku mengantar kepulangan mereka, aku masuk rumah, mandi, setelah itu tidur. Aku lelah. Di saat letih aku kembali teringat wajah Adel. Ia menghantui setiap detik hidupku. Dia begitu elegan di mataku. Tidak hanya cantik, tapi juga pintar. Ketika membahas soal tadi aku sering bertanya kepadanya untuk menyelesaikan soal yang aku anggap sulit.
***
Ujian semester telah usai. Aku yakin bisa menaklukkan berbagai materi yang diujikan dengan betul. Sebab aku telah mempersiapkan diri dengan matang sebelumnya walaupun ada juga sedikit unsur kerja samanya ketika ujian. Ah itu biasa menurutku, yang penting tidak seluruh soal didiskusikan ketika ujian berlangsung.
Setelah itu, kami makan di KFC A. Yani merayakan selesainya ujian. Selesai perayaan hanya tinggal aku dan Adel. Teman-temanku si Sinta, Toni, dan Sophi sudah buru-buru memisahkan diri. Maklum mereka ada acara selanjutnya dengan pacar-pacarnya. Tinggallah kami berdua yang masih bergelut dengan titel kesendirian tanpa asmara.
Terkadang aku berpikir heran kepada Adel. Sudah ada cowok di depan mata tapi masih saja mau menjomblo. “Apalagi yang kamu cari Adel,” kataku dalam hati. Aku miris. Aku sudah berkenan ikhlas menawarkan diri agar ia mau menerimaku sebagai seorang kekasih. Namun, itulah hati manusia yang tidak bisa dipaksa. Nanti kalau dipaksa jadinya pacaran paksa dong. Hal itu tentu akan melanggar HAP: Hak Asasi Pacaran.
Ketika aku akan beranjak pergi, Adel menahan berdiriku. Tiba-Tiba air mukanya berubah serius. Sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikannya.
“Her, kamu memang sahabat baikku. Aku nyaman sekali dekat denganmu. Namun, kamu mau gak jadi seseorang yang lebih dari sahabat untukku,” pernyataan dan pertanyaan Adel berteka-teki.
“Mmakksud kamu Del?” tanyaku gugup kepada Adel. Ada pertanda sesuatu akan terjadi. Pikiranku penuh tanya dan penasaran apa yang dimaksudnya lebih dari sahabat untukku itu. Hati kecilku condong berkata bahwa ada kejutan positif untukku.
“Maksud aku, kamu mau nggak mencomblangin aku dengan abangmu?”
Seketika langit meruntuh. Tak kuasa kutahan segala benda yang bergantung di atasnya. Dugaanku salah. Ternyata ia memang ingin hubunganku dengannya melebihi dari sahabat. Sebuah hubungan yang sangat telak meluluhlantakkan penantianku.

*Cerpen ini dimuat di Harian Singgalang Minggu edisi 27 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s