Raut muka Ringga tampak kesal setiap kali pulang dari sekolah. Air mukannya yang dulu kerap ceria, kini berganti dengan cemberut. Ringga seakan tidak punya semangat dengan hari-harinya, baik ketika akan pergi ataupun sepulangnya dari rutinitasnya belajar di sekolah.

“Ringga, bunda perhatikan belakangan ini kamu tampak resah dan kurang semangat ke sekolah. Kamu sakit?” tanya bunda khawatir.

“Ringga kesal sekali bunda. Teman-teman di sekolah selalu mengatai Ringga dengan ‘si rambut mie’. Ringga menjadi iba hati dan kesal mendengarnya,” jawab Ringga dengan kening yang berkerut.

“Oh..itu, bunda tahu masalahnya. Mereka berkata demikian pasti karena kamu punya rambut keriting kan?”

“Betul bunda. Mentang-mentang Ringga punya rambut yang agak berbeda, lantas mereka semaunya saja bilang ‘rambut mie’ kepada Ringga,” kata Ringga sambil menunjuk-nujuk rambutnya. Seakan tidak puas dengan kekesalannya, Ringga kembali menambahkan, “Ringga tidak suka dengan rambut seperti ini bunda. Ringga malu punya rambut keriting. Ringga ingin berambut seperti teman-teman yang lain. Mereka punya rambut lurus mengilap yang diminyaki setiap hari. Ringga iri bunda.”

Mendengar dan merasakan keluhan yang dihadapi Ringga, bunda berusaha menenangkan. Bunda meyakinkan dan merangkul Ringga dengan erat. “Lihat bunda dan dengarkan kata bunda,” ucap bunda tersenyum kepada Ringga. “Tidak ada yang salah dengan rambut kamu yang keriting. Kamu tetap tampan dan pintar lagi. Sakarang bunda bertanya, berapa umur kamu sekarang?” seraya mencubit halus pipi Ringga.

“Delapan tahun bunda,” jawab Ringga datar.

“Kamu masih terlalu belia sayang. Waktu kamu masih panjang ke depan. Ada lima, sepuluh, atau lima puluh tahun mendatang yang bakal kamu lalui. Kamu pasti tidak mau menjalani waktu demi waktu tersebut dengan bersedih menyesali diri bukan? Hanya lantaran menyikapi sesuatu yang kamu anggap kekurangan. Padahal itu bukanlah kekurangan, melainkan sebuah karunia yang patut kamu syukuri. Sekarang bunda bertanya lagi, yang menciptakan manusia itu siapa?”

“Allah,” jawab Ringga

“Allah menciptakan setiap manusia dengan segala rupa dan karkater, termasuk bentuk rambut yang kamu miliki sekarang. Setiap bentuk ciptaan Allah itu pasti ada tujuannya. Tugas kita sebagai manusia harus mensyukuri karunia yang telah diberikan-Nya tersebut,” jelas bunda.

“Tapi bunda, teman-teman Ringga di sekolah terus menertawai rambut Ringga. Ringga tidak tahan bila setiap hari diperlakukan seperti itu,” ungkap Ringga mempertanyakan.

“Hal itu terjadi karena teman-teman kamu belum memahami. Kita tidak boleh menertawai ciptaan Allah. Kamu harus tenang menyikapinya. Bila perlu kamu sampaikan ke mereka mengenai apa yang bunda bilang tadi kepada kamu.”

Kemudian bunda memotivasi, “Banyak kok orang yang rambutnya keriting itu hebat. Ada Giring Nidji seorang musisi terkenal, penulis best seller Andrea Hirata, Nicholas Saputra selaku aktor film, Riri Riza sutradara kenamaan, dan tentu saja ayah kamu. Ayah saja sangat bangga dengan rambut keritingnya. Ayah selalu disenangi teman-temannya karena bersikap bijaksana. Tidak kalah pentingnya, ayah punya prestasi sehingga menjadi kebanggan teman-temannya di kantor. Bila suatu ketika teman-temannya menertawai, ayah hanya menanggapi dengan santai dan tidak gusar. Ayah mengangap itu sebagai doa dan pelucut untuk berbuat selalu yang lebih baik. Rambut keriting justru menjadi keunikan tersendiri yang melekat bersamaan dengan kelebihan kita. Kamu harus bisa mencontoh ayah dan nama-nama lain yang bunda sebutkan tadi. Ringga harus memberikan pembuktian diri dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dengan kata lain, fokuslah pada prestasi yang akan kamu torehkan nantinya.”

Penjelasan bunda yang panjang lebar tersebut membuat Ringga perlahan-lahan mulai menyadari. Ringga semakin mengerti dan tumbuh semangatnya untuk menonjolkan segala kemapuannya. Apalagi Ringga termasuk siswa yang pintar dan selalu mendapat peringkat tiga besar. Ringga tidak ingin ejekan teman-temannya menjadi penghambat prestasinya. Ringga hanya akan berkonsentrasi penuh dengan segala sesuatu yang membuatnya akan lebih baik dan tentu saja membanggakan orangtuanya.

Namun, ketika ke sekolah sebagaimana biasanya, teman-teman Ringga masih saja memanggilnya “si rambut mie”. Ringga sudah berupaya menangkis olok-olokan tersebut dengan menjelaskan apa yang telah dikatakan bundanya. Bahkan Ibu guru sudah menegur teman-temannya yang bandel tersebut. Akan tetapi, temannya tetap saja mengejeknya di luar kelas. Ringga pun kembali merasa kecewa dan motivasinya perlahan turun kembali. Ringga sempat berpikir untuk pindah sekolah saja.

***

Setelah rapor akhir semester ganjil di SD Harapan Karya diberikan kepada setiap wali murid, masa liburan pun tiba. Namun, dalam rapor tercatat bahwa prestasi Ringga turun ke peringkat tujuh. Ringga kecewa dan merasa bersalah kepada bunda karena hasil rapornya tersebut. Bunda sebenarnya memahami bahwa Ringga cukup terganggu fokus belajarnya lantaran persoalan yang dialaminya di sekolah belakangan ini. Bunda pun sadar bahwa Ringga masih terlalu belia dan tidak cukup kuat mentalnya mengahadapi suatu masalah. Akan tetapi, Bunda tetap mendukung Ringga dan peringkat tujuh pun patut untuk dirayakan.

Keesokan harinya bunda mengajak Ringga ke mal. Ayah Ringga tidak bisa ikut karena ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, ayah sudah berjanji  akan memberikan hadiah istimewa untuk Ringga sepulangnya dari luar kota.

Setelah lelah berjalan-jalan dan menikmati berbagai permainan yang tersedia di mal, bunda dan Ringga pun makan di salah satu gerai makanan siap saji kesukaan Ringga. Ringga sangat senang hari itu. Untuk sementara ia bisa melupakan masalah yang dialaminya di sekolah, termasuk merosotnya peringkat belajar. Bunda pun merasa bahagia dengan liburannya ke mal bersama Ringga anak kesayangannya.

Kemudian ketika tengah asyik makan dan mengobrol, Ringga dan bunda dihampiri seorang pria separuh baya. “Saya perhatikan dari tadi, Ringga sepertinya cocok memerankan salah seorang tokoh dalam sinetron saya,” kata Pak Punjab setelah memperkenalkan diri dan beribincang-bincang dengan bunda dan Ringga seraya menyerahkan kartu namanya.

“Saya ingin Ringga dapat bermain dalam sineton saya sebanyak lima episode saja. Kami butuh aktor belia. Ringga mempunyai ciri fisik yang kami mau, yakni  berambut keriting dan berkulit sawo matang,” ujar Pak Punjab sambil mengelus rambut Ringga.

Mendengar apa yang dikatakan Pak Punjab, bunda dan Ringga seakan tidak percaya dan tebersit juga rasa gembira. Bunda dan Ringga tidak menyangka bila orang yang berbicara di depan mereka adalah produser sinetron yang menawarkan Ringga berperan dalam sinetron kejar tayangnya.

“Kami pikirkan dulu Pak Punjab. Kami diskusikan dengan ayahnya terlebih dahulu. Apakah akan menerima atau tidaknya tawaran ini akan kami kabari kepada Pak Punjab,” kata bunda menanggapi.

“Tidak apa-apa Ibu. Saya harap ibu dan Ringga menerima tawaran ini. Siapa tahu anak ibu, Ringga berbakat dalam dunia akting. Lagi pula sekarang masa liburan jadi tidak akan menggangu jadwal sekolahnya,” bujuk sang produser meyakinkan.

***

Ringga mendadak terkenal setelah bunda, ayah, dan Ringga menerima tawaran Pak Punjab. Semua orang di lingkungan sekitar rumah tempat tinggal Ringga tidak henti-henti memujinya. Akting Ringga dalam sinetron yang tayang secara berturut-turut selama lima episode itu menerbitkan kekaguman para penontonnya. Pihak sekolah sangat bangga karena salah seorang siswanya tampil berakting di layar kaca. Teman-teman Ringga yang dulunya sering mengatai dengan rambut keriting, kini berbalik menyanjungnya dengan mangatakan rambut Ringga keren dan sangat cocok berperan dalam sinetron tersebut.

Ringga pun merasa bahagia dari apa yang dialaminya sekarang. Hidupnya kini berubah dan senyumnya terus mengembang dari bibir mungilnya.

“Bagaimana Ringga, masih punya penyesalan dengan bentuk rambutmu?” tanya ibu sambil mengerlingkan mata. Ringga tidak dapat menjawab dan hanya bisa tersipu malu memeluk bunda yang dicintainya.

 *Cerita ini dikirimkan ke redaksi Kompas Anak, tetapi disayangkan naskah dikembalikan lagi oleh redaktur dengan alasan “Bahasa terlalu baku/kaku”.

Hal yang ditunggu kemudian membahagiakan seorang pegawai atau karyawan adalah awal atau akhir bulan. Saat itu adalah waktunya menerima hak berupa gaji. Namun, pada umumnya mereka yang mendapatkan penghasilan dari menunggu tentu lebih banyak tersiksanya. Pendapatan dinanti pada waktu tertentu saja. Termasuk saya sendiri. Bisa dikatakan bahwa tertawanya pegawai ataupun karyawan hanya sampai pertengahan bulan. Jika sudah memasuki minggu ketiga, senyum pun tidak lagi mengembang sebagaimana kadarnya pada awal-awal menerima gajian.

Perlu adanya langkah revolusi pikiran dalam menyikapi hal ini. Caranya itu adalah mau berubah untuk mendapatkan penghasilan yang lebih lagi. Dengan kata lain, tidak mengharapkan gaji semata. Para penunggu gaji ini harus mampu mengelola penghasilannya untuk diputarkan kembali menjadi usaha tambahan atau dikenal dengan UMEGA. Hal itu terang saja sebab kebutuhan dari waktu ke waktu terus bertambah. Sementara gaji atau penghasilan agak seret pula untuk meningkat. Semakin bertambah umur tentu kian besar pula pengeluaran.

Resepnya hanya satu, yakni action. Kalau sudah ada niat dan kemauan untuk berwirausaha, tidak ada salahnya untuk langsung terjun memulainya. Jangan terlalu banyak merencanakan atau memprogramkan. Seorang pengusaha ternama di Indonesia, Bob Sadino, pernah mengatakan jika usaha dimulai dengan perencanaan-perencanaan, apa yang dihasilkan juga akan berupa perencanaan-perencanaan. Oleh karena itu, mulailah dan langsung kerjakan!

Ayo berwirausaha teman-teman, terutama untuk penulis sendiri haha….

Kisah kasih perjalanan yang penuh cinta nan suci dan abadi terpatri dalam kehidupan Habibie dan Ainun. Dua insan ini telah memberikan panutan kepada semua orang tentang dahsyatnya kekuatan cinta. Cinta mereka terus bermekar kapan dan dimanapun hingga akhir hayat.

Mantan Presiden RI yang ke-3 ini bersyukur telah “manunggal” dengan sang istri, Ibu Ainun Habibie semenjak 12 Mei 1962. Pasangan Ilmuan dan dokter ini menjalani kehidupan rumah tangga dalam keseimbangan imtaq dan iptek. Hal itulah menjadi suatu modal dasar sehingga mereka dapat hidup dalam suka dan duka karena Allah Swt selamanya.

Cinta dan kasih Habibie Ainun yang terukir selama 48 tahun telah memberikan inspirasi yang begitu dalam kepada rakyat Indonesia. Mereka hidup dalam saling mencintai tidak terpisahkan. Dimana Habibie berpijak, ada Ainun yang setia dengan senyum mendampingi, begitupun sebaliknya. Hingga pada akhirnya Ibu Ainun sakit keras. Habibie tidak pernah sekalipun meninggalkan istrinya. Habibie begitu setia dan tabah menemani sembari berdoa untuk kebaikan pujaan hatinya tersebut.

Ada satu petikan kisah yang teramat mengharukan. Ibu Ainun di tengah sakit kerasnya pun yang ketika itu dirawat di Ludwig Maximilian University (LMU) – Muenchen masih mengkhawatirkan suaminya. Ibu Ainun memang memiliki karakter yang lebih peduli dengan orang lain terutama suaminya bila dibandingkan dengan dirinya sendiri. Berikut kutipan sebagaimana yang diceritakan Habibie berikut ini.

Pada suatu hari, baru sekitar pukul 12.00 diperbolehkan masuk ke ICCU kamar Ainun. Saya dua jam terlambat, walaupun sejak pukul 09.30 sudah menunggu di kamar tunggu ICCU. Hal itu terjadi karena keadaan darurat akibat pelaksanaan operasi yang tidak direncanakan sebelumnya, maka semua pengunjung belum diperbolehkan masuk ke ICCU. Baru sekitar pukul 12.00 saya masuk. Ketika masuk, Ainun sedang menangis.

                Saya langsung bertanya: “Ainun mengapa nangis? Sakit?”

                Ainun menggelengkan kepala. Lalu mata saya mengarah ke alat-alat elektronik dan segala peralatan yang dipasang di tubuh Ainun dengan sekitar 50 alat transfusi dan infusi sambil mengucapkan:

                “Takut sama peralatan ini?” Ainun menggelengkan kepalanya lagi. “Saya mengerti sekarang. Kamu mengira telah terjadi sesuatu pada saya?”

Baru Ainun mengangguk kepalanya. Walaupun pada waktu itu Ainun dalam keadaannya sadar. Ainun hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepala karena di mulutnya dipasang alat pernafasan. Saya amat terharu karena dalam kaadaan saat dan dirawat secara intensif tersebut, Ainun masih saja memikirkan kesehatan saya.

Bahkan tim dokter yang menangani langsung operasi Ainun pun memberikan apresiasi tinggi atas kesetiaan Habibie Ainun. Berikut kutipannya.

“Profesor Habibie kami semua selama 2 bulan ini banyak belajar. Kami sudah sangat berpengalaman melihat bagaimana orang bereaksi dan berperilaku. Namun pertama kalinya kami melihat perjuangan Anda suami isteri mengatasi semuanya dalam suasana cinta yang murni dan sejati. Kami semua banyak belajar dalam dua bulan ini. Terima kasih Prof. Habibie. Semoga Tuhan YME selalu melindungi dan menyertai Anda berdua”.

Begitulah luar biasanya kekuatan cinta tersebut. Apa yang dialami Habibie dan Ainun lebih dari sekadar romantisme pasangan cinta kasih di dunia ini. Cinta Habibie dan Ainun adalah karunia Allah Swt yang telah memberikan kekaguman kepada siapa saja yang hidup dalam cinta. Kini Ainun telah meninggalkan kita semua. Habibie mengatakan, “Ainun pindah ke alam dan dimensi baru”. Semoga amal yang telah diperbuat selama hidup diterima Allah Swt dan kepada Pak Habibie dan keluarga diberikan kekuatan, yakni kekuatan cinta yang abadi dan murni.

Adakalanya ujian sekolah dengan bentuk soal sejenis pilihan ganda (objektif) berdampak kurang baik untuk Gambarmengukur kemampuan siswa. Mereka terlalu mudah melakukan tindakan sebagaimana meminta subsidi jawaban dari temannya. Setiap peserta didik dapat dengan gampang memberitahu atau diberitahu mengenai jawaban apa yang dimiliki rekannya. Mengapa pilihan ganda dirasa kurang baik karena pilihan jawabannya hanya berkaitan dengan simbol a,b,c,d, dan e yang teramat mudah untuk dikomunikasikan secara verbal ataupun nonverbalnya oleh siswa.

Barangkali bentuk soal pilihan ganda tidak begitu masalah dengan sekolah yang siswanya memiliki kemampuan di atas rata-rata. Soalnya bisa dipastikan bahwa setiap peserta didik yang mempunyai tingkat kepintaran yang tinggi akan berkorelasi dengan kamandirian melaksanakan ujiannya. Namun, akan jauh berbeda apabila sekolah dengan siswa yang mempunyai kemampuan standar ataupun di bawahnya untuk dilalkukannya ujian dengan format pilihan ganda tersebut. Dengan kata lain, hampir bisa dipastikan akan terjadi pemanfaatan jawaban-jawaban teman dengan frekuensi yang tinggi.

Guna mengatasinya, perlu dilakukan strategi bentuk soal dengan jawaban-jawaban yang membutuhkan uraian atau jenis esai saja. Tidak perlu terlalu banyak, cukup denga jumlah maksimal 10 butir soal, yang penting setiap pertanyaan ujian  sudah mengandung kompetesi dasar atau materi yang telah diberikan pada proses belajar mengajar. Dengan demikian, siswa akan belajar untuk menganalisis maksud atau pemahaman tentang soal guna menjawabnya dengan pendapat dan penjelasannya masing-masing secara relevan. Mudah-mudahan dengan itu siswa bisa mengasah ketajaman berpikirnya dan menjadi sumber daya menusia yang berkarakter sebagaimana yang tengah digalakkan pemerintah saat ini.


Salah seorang teman saya sudah begitu frustrasi menjalani hari-harinya. Uang benar-benar telah menyandera kehidupannya. Usaha yang tak kunjung berpendar menjadi alasan krusial yang kian menikam batinnya. Ditambah lagi kehidupan asmara yang sejalan dengan usahanya yang payah.

Sangat miris mendengar kabarnya itu sekarang. Namun, apa daya tangan tidak terlalu sampai membantunya secara langsung. Barangkali uluran tangan saya yang hanya bisa dengan menghibur dan memberikan sumbangsih saran bisa menjadi penenang kalut jiwanya.

Begitulah potret sebagian besar anak negeri yang tengah dirundung masalah. Kesempatan kerja yang tak kunjung digubris, kemudian wirausaha yang tidak menjadi-jadi, ditambah utang dimana-mana yang mulai menumpuk seperti cucian kotor. Tentu, siapa saja yang mengalami (termasuk saya) akan bersikap sama dengan teman saya itu. Dan siapa tahu, tingkat frustrasinya bisa lebih gawat dibandingkan dia. Akan tetapi, saya hanya bisa berdoa semoga ia bisa melaluinya dengan sabar.

Problem ini juga tengah dihadapi adik saya. Julukan fresh graduated yang telah diterimanya ini menjadi asa untuk segera mendapatkan jawaban guna dipanggil kerja. Saya hanya bisa berharap ia juga bisa tabah untuk terus berusaha. Saya yakin, di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan yang mengahampiri. Jadi, ketika ditimpa suatu perosalan, semoga kita bisa melihat langsung kemudahan-kemudahan itu.

 

Seperti biasa, kelulusan UN disambut siswa dengan euforia corat-coret pakaian. Untuk saat ini, barangkali, cara konvensional itulah yang paling memuaskan kebahagiaanya. Menyepidol dan menyemprot pakaian bahkan anggota tubuh sudah menjadi ritual wajib yang mustahil bisa dihilangkan.

Sangat disayangkan memang karena pada umumnya seragam-seragam itu masih dalam kondisi laik pakai. Bila masih laik digunakan, tentu pakaian-pakaian itu akan amat berguna bila diberikan kepada teman-temannya yang masih membutuhkan.

Jika kita memang berniat untuk menghilangan atau setidaknya mengurangi budaya itu, pihak sekolah bisa mengantisipasinya. Caranya dapat dicegah saat pertama, yakni ketika mereka berada pada tingkat pertama sekolah. Dalam artian, sekolah harus mewanti-wanti sedari awal agar nanti siswa yang akan menjejaki UN harus menyumbangkan seragamnya tersebut. Terserah bagaimana pengelolaannya. Dengan demikian, terlepas apakah setelah itu mereka masih melancarkan aksi corat-coretnya, tentu tidak ada masalah. Setidaknya, sekolah sudah menanamkan kepedulian sosial pada siswa. Dengan kata lain, ada selingan nilai positif yang dapat diambil dari hiruk pikuknya pesta kelulusan tersebut. Kapan masalah corat-coret seragam ini akan berakhir? Ya tanyakan pada rumput yang masih setia bergoyang-goyang.

Memoar

Posted: Mei 24, 2011 in Uncategorized
Tag:,

Belum aku temui teman-teman yang seindah dulu (bukan berarti mengebiri keelokan teman-temanku sekarang). Para teman yang selalu dekat di hati yang begitu sepenanggungan. Barangkali sepenanggungan itulah yang menjadi rumus pengikat kami-kami yang mencari jati diri ini. Bila mengenangnya, tentu ada haru dan gembira tersindiri. Untuk itu, aku ingin menyapanya semua: Apa kabar kalian, yang dulu kerap aku tertawai? Dan bagaimana berita kalian, yang juga sering mengejek mesra diriku dahulu? Percayalah, ibarat dalam pengkultusan sepak bola, kalian adalah taman (pemain) terbaik sepanjang masa.

Rumah Iklan

Posted: April 11, 2011 in Uncategorized
Tag:, , ,

Media iklan dari waktu ke waktu kian inovatif. Diawali dengan promosi di mobil umum yang memampangkan produknya di dinding dan kaca belakang kendaraan. Tentu saja hal ini menjadi sangat efektif guna memperkenalkan barang dagangannya dengan cepat karena dibawa keliling setiap saat. Namun, sekarang yang tidak berjalan juga menjadi pilihan para marketing produk. Tempatnya adalah rumah. Sebelumnya tempat yang tidak berjalan sudah ada seperti papan baliho, poster, dan spanduk. Akan tetapi itu saja tidak cukup membuat bagian pemasaran untuk terus berinovasi. Kata kuncinya adalah segala sesuatu yang menarik perhatian, di situ ada peluang. Tidak terkecuali rumah penduduk sekalipun. Terutama rumah-rumah di tepi jalan raya yang posisinya sangat pas untuk diperhatikan langsung setiap saat oleh orang yang berlalu lalang. Rumah tersebut dicat dinding hingga lotengnya sesuai dengan logo barang yang ingin diiklankan. Berdasarkan pengamatan, rumah-rumah itu masih didominasi oleh iklan merek operator seluler sehingga jadilah rumah yang tampil beda. Tentu saja ada keuntungan kedua belah pihak yang diperoleh dari itu semua. Selamat memetik buahnya.

Akhir Penantian*

Posted: Maret 29, 2011 in Uncategorized
Tag:,

O l e h Hafizul Ahda

“Woi….cepatlah! Lari! Dasar, sudah telat masih menggak-menggok!” teriak-teriak mereka semakin melecut ketergesaanku. Aku terlambat beberapa menit tidak masuk barisan. “Celaka! pasti dikerjain lagi,” firasatku berkata. Aku pun terdiam dengan kesalahanku ketika telah mematung di hadapan mereka yang menghardikku tadi. Namun, selang beberapa saat sesudahnya, ternyata ada lagi yang kesiangan datang. Cewek pula.
***
Aku mengenalnya ketika awal memasuki bangku kuliah. Tepatnya sejak mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKMB) atau yang dulu dikenal dengan Ospek. Pandanganku terus saja tidak bisa lepas darinya. Hatiku pun timbul getar yang tidak biasa. Aku yakin inilah getar asmara. Sebuah getar yang ditimbulkan dari bentuk fisik Adel yang menurut polusku begitu sempurna. Adel berperawakan manis dan berkulit putih bersih. Setiap orang yang melihat pasti lama akan memalingkan pandangannya dari Adel.
Adel satu kuliah denganku. Kami tergabung dalam Program Studi Akuntansi UNP. Karena sering kuliah bareng, hubungan kami pun tergolong mesra sebagai teman. Namun, belakangan kedekatanku dengan Adel tidak enak bila hanya disebut teman. Aku ingin lebih dari itu.
Aku pun berusaha mendekati Adel lebih intensif. Aku akrabkan ia untuk kucuri hatinya dan tidak akan aku kembalikan. Aku ingin membawa hatinya terbang jauh ke angkasanya angkasa hingga akhirnya ia menyerah dan mau denganku. Oh begitu berharapnya aku kepadanya.
Bagaimanapun satu-satunya agar bisa selalu dekat dengan Adel, aku sering mengajaknya jalan. Memang aku dan Adel sudah sering pergi berbarengan. Baik itu ketika kuliah ataupun tengah bersantai melepas penat dari rutinitas akademik. Namun, kesempatan kali ini berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya. Pada momen kali ini aku ingin ungkapkan isi perasaanku kepadanya. Aku berpikir cara memandangnya terhadapku semakin meyakinkan aku untuk mengungkapkan rasa sukaku. Tidak ada lagi waktu untuk menundanya. Aku khawatir akan ada orang yang akan merebutnya dariku. Walaupun aku harus sadar segala kemungkinan akan terjadi. Tentu saja pernyataan cinta ini akan menimbulkan dua kemungkinan apakah akan ditolak atau diterima. Aku berharap pilihan kedua akan terjadi.
“Adel, sudah lama aku ingin mengatakan sesuatu kapadamu. Apa yang aku katakan ini adalah sebuah ungkapan yang barangkali paling berharga selama hidupku,” kataku serius dengan intonasi sedikit gugup.
“Mau ungkapin apa Her. Sebegitu seriuskah sampai-sampai raut muka kamu terlihat mau pingsan,” timpal Adel bercanda dengan air muka yang heran-heranan.
“Aku suka kamu Adel. Berkenankah dirimu menjadi permaisuriku,” kataku sambil menggengam tangan halusnya. Adel tersipu malu melihat tingkahku dan mendengar kalimat tawaranku.
“Ah Hero kamu apa-apaan sih, kamu bergurau saja. Biasa aja lah jangan seperti itu.”
“Aku serius Del. Aku suka kamu sejak pertama menatapmu. Aku sudah terlanjur sayang ketika senyummu menyapa ragaku,” rayuku meyakinkan sepenuhnya.
“Kamu benar-benar serius Hero?” Adel diam sejenak lalu meneruskan, “Ah tapi Maafkan aku Her. Bukan bermaksud untuk tidak menyukai kamu. Tawaran kamu dengan sangat berat hati tidak bisa aku terima. Aku masih nyaman dengan hubungan kita sekarang. Ya jalinan sebagai teman biasa,” jawab Adel mantap. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku. Hatiku berkeping mendengarnya dan jiwaku meratap karenanya.
Kemudian Aku dan Adel pulang. Kami menyusuri kotak-kotak jalan trotoar, tapi berjalan dengan suasana hati yang berbeda dari sebelumnya. Terutama sekali untukku sebab perasaanku baru saja terserang lindu.
Hari-hari berikutnya aku agak merasa lain saja dengan Adel. Kadar interaksiku dengannya tidak lagi sebagaimana biasa. Aku seperti kehilangan semangat hidup. Akan tetapi, Adel yang dasar karakternya periang tetap saja membiasakan diri bergaul denganku. Seolah-olah hubungan kami tidak terjadi apa-apa. Beda denganku yang merasa terpukul bahkan hampir terserang trauma mendengar suaranya.
“Hei Pahlawanku. Kok sendiri aja bengongnya. Boleh ikutan ga?” ungkap Adel Menggoda. Ia sering menyapaku dengan sebutan pahlawan bila melihatku termangu.
“Hmm gak apa-apa Del. Biarlah aku yang berdiam diri seorang. Kalau kamu ikut, dunia tidak lagi bisa berseri,” balasku mencoba menghibur diri dengan suara yang datar.
“Ah kamu selalu begitu Her. Mengucapkan kata-kata yang terus puitis-puitisan. Kamu memang benar-benar sahabatku yang sepesial,” kata Adel bercanda dengan logat batak sembari mencubit pipiku. Aku pun meringis karena ia menjiwit tepat di pipiku yang berjerawat. Spontan Adel langsung berlari ketika hendak aku balas karena wajahku kesakitan olehnya. Walaupun jari-jarinya lembut, tapi bila sudah terkena jerawat tetap saja perih buatku.
Semakin hari kian hatiku tak tertahankan lagi oleh sikapnya itu. Ia terus saja menggodaku dengan manja yang membikinku semakin merana oleh virus cinta. Cinta kepada seseorang yang menganggapku hanya sebagai sahabat. Kepada siapakah itu? Ya jelas saja siapa lagi kalau bukan si Adel yang imut kayak marmut itu.
Aku juga heran sebenarnya siapa yang disukainya. Setiap kali aku tanya ia selalu mengelak. Terus saja mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Sangat disayangkan sebenarnya cewek secantik Adel tidak punya kekasih yang mendampingi. Bahkan aku yang lumayan cute ini telah bersedia menawarkan diri untuk menjadi pangerannya, tetapi tetap saja ia tidak mau. Aku membesarkan hati, biarlah semua dijalani saja apa adanya dulu. Semoga suatu saat ia mau menerima cintaku. Tentu saja dilain waktu.
***
Ujian semester kian dekat, kira-kira dua minggu lagi. Siap tidak siap atau mau tidak mau aku harus mempersiapkan kemampuan. Aku mesti menyambut ujian tersebut dengan semangat yang tinggi. Kalau sudah mendekati ujian biasanya aku bersama teman-teman dekatku mengadakan belajar kelompok. Mereka yang menjadi partnerku seperti, Sinta, Sophi, Toni, dan termasuk si Adel Kudel (begitu aku sering menyapanya) telah siap berdiskusi. Kali ini tempat ritual belajarnya di rumahku.
Hari itu kami membahas soal-soal dalam mata kuliah Advance atau Akuntansi Keuangan Lanjutan. Kebetulan dosen mata kuliah ini yang sering memberikan kami tugas per kelompok. Jadi besar kemungkinan soal yang akan muncul saat ujian tentu saja berkaitan dengan apa yang kami bahas dalam pertemuan ini. Kami semua sibuk dalam belajar kelompok itu. Aku dan teman-teman sadar jika tidak serius, berarti terima saja nilai yang akan mengecewakan. Mata kuliah ini termasuk pelajaran yang membutuhkan pemahaman dan analisis yang tepat. Latihan-latihan mengerjakan soal secara berkala dan intensif menjadi hal yang wajib. Tujuannya tidak lain untuk mengasah kemampuan menyelesaikannya dengan benar.
Dalam belajar bersama tersebut aku masih menyempatkan diri sesekali mencuri pandang melihat keseriusan belajar Adel. Aku melihatnya sesekali dalam lima menit untuk menjaga semangat belajarku. Merefreshkan dirilah istilahnya.
Tanpa terasa kami belajar menghabiskan waktu hingga pukul sembilan malam. Saatnya membubarkan diri. Teman-temanku ini lumayan jauh juga rumahnya dengan tempat tinggalku. Secara kebetulan abangku, Heksa, baru ingin keluar memulai rutinitasnya. Langsung saja abangku menawarkan diri untuk sekalian mengantarkan mereka pulang. Mereka pun menumpang mobil Vitara abangku. Lepas pandanganku mengantar kepulangan mereka, aku masuk rumah, mandi, setelah itu tidur. Aku lelah. Di saat letih aku kembali teringat wajah Adel. Ia menghantui setiap detik hidupku. Dia begitu elegan di mataku. Tidak hanya cantik, tapi juga pintar. Ketika membahas soal tadi aku sering bertanya kepadanya untuk menyelesaikan soal yang aku anggap sulit.
***
Ujian semester telah usai. Aku yakin bisa menaklukkan berbagai materi yang diujikan dengan betul. Sebab aku telah mempersiapkan diri dengan matang sebelumnya walaupun ada juga sedikit unsur kerja samanya ketika ujian. Ah itu biasa menurutku, yang penting tidak seluruh soal didiskusikan ketika ujian berlangsung.
Setelah itu, kami makan di KFC A. Yani merayakan selesainya ujian. Selesai perayaan hanya tinggal aku dan Adel. Teman-temanku si Sinta, Toni, dan Sophi sudah buru-buru memisahkan diri. Maklum mereka ada acara selanjutnya dengan pacar-pacarnya. Tinggallah kami berdua yang masih bergelut dengan titel kesendirian tanpa asmara.
Terkadang aku berpikir heran kepada Adel. Sudah ada cowok di depan mata tapi masih saja mau menjomblo. “Apalagi yang kamu cari Adel,” kataku dalam hati. Aku miris. Aku sudah berkenan ikhlas menawarkan diri agar ia mau menerimaku sebagai seorang kekasih. Namun, itulah hati manusia yang tidak bisa dipaksa. Nanti kalau dipaksa jadinya pacaran paksa dong. Hal itu tentu akan melanggar HAP: Hak Asasi Pacaran.
Ketika aku akan beranjak pergi, Adel menahan berdiriku. Tiba-Tiba air mukanya berubah serius. Sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikannya.
“Her, kamu memang sahabat baikku. Aku nyaman sekali dekat denganmu. Namun, kamu mau gak jadi seseorang yang lebih dari sahabat untukku,” pernyataan dan pertanyaan Adel berteka-teki.
“Mmakksud kamu Del?” tanyaku gugup kepada Adel. Ada pertanda sesuatu akan terjadi. Pikiranku penuh tanya dan penasaran apa yang dimaksudnya lebih dari sahabat untukku itu. Hati kecilku condong berkata bahwa ada kejutan positif untukku.
“Maksud aku, kamu mau nggak mencomblangin aku dengan abangmu?”
Seketika langit meruntuh. Tak kuasa kutahan segala benda yang bergantung di atasnya. Dugaanku salah. Ternyata ia memang ingin hubunganku dengannya melebihi dari sahabat. Sebuah hubungan yang sangat telak meluluhlantakkan penantianku.

*Cerpen ini dimuat di Harian Singgalang Minggu edisi 27 Maret 2011

LPJ Pariaman

Posted: Maret 24, 2011 in Uncategorized
Tag:, ,

Puisiku Puisi Balik Kanan Grak!

Teman, kita digariskan untuk dipersuakan oleh waktu di sini:

saling bertatap kemudian bersahabat

Tetapi teman, kedahagaan waktu itu kian pula dekat memaksa kita kembali dipisahkan

Banyak kisah dan kasih terlalui di ruangan ini

Bahkan kasih dalam kisah pun termanggut malu menggoda kebersamaan antara kita

Teman, kita telah tersurut larut dalam kantuk berhari berminggu

Kita hampir terbiasa terjaga pagi menertawai matahari yang terus kita tandingi sinarnya

Setelah itu teman, kita berkeringat senyum ketika telah istirahat di tempat di bangku makan.

Kemudian Teman, kita selalu menggerutu manja saat tiupan sangkakala mulai membanjarkan kita

Walau sedikit trauma, sempritan itu sungguh berjasa setia mempertemukan kita.  Dan kita layak

mengirim rindu suatu saat padanya

Terakhir teman, kita benar-benar telah bertemali

Kita telah begitu mesra menjalani hari-hari ini

Sesayang kemesraan, yang akan berakhir, sesaat lagi di sini.

 

Padamu Negeri

Padamu negeri

Maafkan kami yang belum terampil berbakti

Terampil berbakti dari janji-janji yang masih terkebiri dan terkuliti

Bagimu negeri

Ampuni kami yang barangkali talah mengabdi, tapi masih terkarung dalam pengabdian fraksi pengerat hati nan getir

Namun, kami yakin

Sepanjang matahari terus menyinari

Selagi deras hujan masih membasahi

Tanah subur yang terus bergolak menumbuhi

Meski itu terseok, terolok, dan terkelok

Kami, sebagai anak negeri percaya dan yakin diri

Akan memberi kebanggaan hakiki untuk senyum ibu pertiwi.

*Puisi ini saya tulis & baca ketika acara perpisahan angkatan ke- 17 LPJ Kota Pariaman